pendiri kerajaan mataram

  1. Home
  2. /
  3. Umum
  4. /
  5. pendiri kerajaan mataram

pendiri kerajaan mataram

Posted in : Umum on by : admin

Kerajaan Mataram

2.1 PENDAHULUAN

Jawa dapat dikatakan merupakan sentral bagi nusantara dan menjadi cikal bakal terbentuknya pemerintahan modern untuk menyatukan berbagai peradaban di Indonesia ini. Dirunut dari zaman prasejarah berupa penemuan situs manusia Pithecantropus Erectus di Sangiran Jawa Tengah, kemudian menginjak masa Klasik dengan peradaban Hindu Budha hingga babak baru berupa penyebaran Islam, bahkan dilanjut dengan era kolonialisasi, menunjukkan bahwa Jawa merupakan salah satu pusat mata rantai peradaban Indonesia. Upaya untuk menyatukan wilayah-wilayah di Nusantara dibawah payung Jawa telah dimulai oleh raja Kertanegara (Singasari, 1268-1292). Sang raja telah memperkuat militernya hingga mempunyai armada laut tangguh. Kekuatannya pernah menghadapi armada Portugis di Selat Malaka yang ingin menguasai Nusantara yang dikenal dengan ekspedisi PAMALAYU. Meski akhirnya Singasari runtuh, keberlangsungan cita-citanya diwujudkan oleh keturunannya yang mendirikan MAJAPAHIT. Kerajaan ini sangat luas pengaruhnya hingga Champa (sekitar Vietnam-Thailand), dan benar-benar menyatukan Nusantara di bawah payungnya. Sang raja, Hayam Wuruk (1350-1389) digambarkan sebagai penganut Budha dan Siwa
Data tentang kebesarannya dapat dirunut dari karya sastra Negarakrtagama karya Prapanca.
Kebesaran Majapahit mulai surud sepeninggal Hayam Wuruk, dikarenakan intrik keluarga hal tahta. Hingga menyebabkan para daerah vasal melepaskan diri. Kondisi ini berlangsung hingga satu abad. Kemudian kebudayaan baru menancap, yaitu Islamisasi.
Penyebaran agama Islam di pesisir utara Jawa memunculkan kekuatan baru. Di Demak, salah satu putra Raja Brawijaya Majapahit bernama Raden Patah berhasil mendirikan kerajaan Islam pertama di Jawa. Beliau bergelar Sultan Syah Alam Akbar I (1478-1513).
Eksistensi Demak memang tidak berlangsung lama. Sepeninggal Sultan Trenggana, (raja ketiga 1521-1546) kerajaan mengalami perang saudara. Sultan Prawata sebagai pemegang tampuk pemerintahan selanjutnya ( 1546-1561) digoncang oleh Arya Penangsang, adipati Jipang (sepupunya) yang membalas dendam atas kematian ayahnya, P. Seda Lepen. Sang ayah ini tewas dibunuh oleh Sultan Prawata. Pada akhirnya sang raja pun menemui nasib sama, wafat di tangan Arya Penangsang.
Demak kemudian diperintah oleh menantu Sultan Trenggana, Sultan Hadiwijaya (1561-1584). Beliau memindahkan tahta kerajaan ke pedalaman, yaitu daerah Pajang (selatan Salatiga). Kerajaan Pajang mempunyai panglima perang atau senopati yang mumpuni, Danang Sutawijaya. Ia merupakan putra Ki Ageng Pemanahan yang memimpin sebuah daerah otonom bernama MATARAM di selatan Pajang.

2.2 BERDIRINYA MATARAM
Sultan Hadiwijaya sebagai raja bijaksana, tidak pernah melupakan jasa-jasa rakyatnya terhadap negara. Ketika terjadi huru-hara yang dipimpin Arya Penangsang, Ki Ageng Pemanahan menyuruh putranya, Danang Sutawijaya untuk berperang melawan Arya Penangsang dengan menggunakan tombak sakti, Kyai Plered. Perang tanding berhasil dimenangkan Danang Sutawijaya. Oleh sebab itu, sultan memberi hadiah tanah hutan Mentaok di daerah Kuta Gede kepada Ki Ageng Pemanahan. Tanah tersebut kemudian dibuka menjadi pemukiman dan bernama Mataram. Sedangkan Danang Sutawijaya diangkat sebagai putra oleh Sultan Pajang dan diberi jabatan sebagai senopati, kepala para prajurit Kerajaan Pajang. Ia bermukim di utara pasar Kuta Gede, hingga mendapat nama Ngabehi Loring Pasar (lor = utara, bhs Jawa). Pasar Kuta Gede sendiri sudah berdiri sejak kerajaan Demak.
Danang Sutawijaya merupakan pribadi cerdas dan berwibawa. Kemampuannya mengatur strategi militer dan pemerintahan telah mengubah Mataram sepeninggal ayahnya, yang semula pemukiman biasa menjadi sebuah perdikan (daerah swapraja) yang besar. Penduduk dari berbagai daerah mulai bermukim di Mataram. Daerah ini berkembang pesat dengan ketersediaan berbagai keahlian, mulai tukang pande, tukang kayu, tukang perhiasan, pedagang, pertanian dan perkebunan (dalam skala rumah tangga) hingga menjelma menjadi negara kecil.
Lambat laun, Danang Sutawijaya membangun tembok keliling (baluwerti) yang ditengarai sebagai tindakan menyaingi Pajang. Bahkan dalam beberapa kali acara pisowanan (menghadap raja), sang putra angkat ini tidak hadir di kraton Pajang. Sultan Hadiwijaya akhirnya mengirim pasukan, bahkan beliau sendiri memimpin ke Mataram. Di Prambanan, sultan dan pasukannya kalah oleh Danang Sutawijaya. Inilah periode beralihnya tahta Pajang ke Danang Sutawijaya di Mataram.


Sumber: https://pengajar.co.id/jasa-penulis-artikel/