Dalil tentang Wanita Berpolitik

  1. Home
  2. /
  3. Budidaya
  4. /
  5. Dalil tentang Wanita Berpolitik
Dalil tentang Wanita Berpolitik

Dalil tentang Wanita Berpolitik

Posted in : Budidaya on by : admin

Dalil tentang Wanita BerpolitikDalil tentang Wanita Berpolitik

1)      al-Quran

Allah telah berfirman di dalam al-Quran:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS al-Nisa’: 34)

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكُيمٌ

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma`ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS al-Baqoroh: 228)

Maksud dari ayat-ayat ini adalah bahwasannya laki-laki memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari pada perempuan dalam hal tanggung jawab, dan sebagainya, termasuk dalam hal pemerintahan. Oleh karena itu, laki-laki memiliki kelebihan dari pada perempuan dalam mengatur kepentingan-kepentingan umum, termasuk berpolitik.

Para pihak yang berpendapat bahwa seorang perempuan tidak boleh berpolitik menggunakan ayat ini sebagai penguat argumentasinya. Namun demikian, kelompok lain berpendapat bahwa ayat di atas bukan berkenaan tentang kepemimpinan wanita dalam pemerintahan. Menurut mereka, jika dirunut dari asbabu al-nuzulnya, ayat yang pertama adalah tentang tanggung jawab seorang suami untuk mendidik istrinya dalam kasus nusyuz. Jadi, pernyataan bahwa kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan dalam ayat ini adalah kepemimpinan seorang laki-laki dalam hal mendidik istrinya dalam kasus nusyuz.

Sedangkan ayat kedua, yang menyatakan bahwa seorang suami memiliki satu derajad lebih dari pada seorang istri, adalah konteksnya dalam hal keluarga. Suami adalah pemimpin yang memiliki tanggung jawab lebih terhadap istri dan anaknya. Jadi ayat ini bukan dalam konteks politik atau pemerintahan, tetapi dalam hal tanggung jawab dalam keluarga.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS al-Ahzab: 33)

Ayat ini menjelaskan bahwa perempuan tidak boleh berkeliaran di luar rumah. Mereka harus selalu berada di dalam rumah. Seorang perempuan harus selalu berada di dalam rumah dan harus mendapatkan izin dari suaminya setiap akan keluar rumah. Selain itu, seorang wanita tidak boleh menghias diri kecuali jika ada di dalam rumah.

Ketentuan ini membuat wanita menjadi terbatas dalam bertindak. Jika seseorang berkecimpung di dalam politik, otomatis orang tersebut harus sering keluar rumah, dan ini bertentangan dengan ayat di atas, yang mangatakan bahwa seorang wanita tidak boleh keluar rumah.

Sedangkan menurut kelompok lain, yang mengatakan bahwa wanita boleh berkecimpung di dalam dunia politik berargumen bahwa ayat ini khusus diturunkan untuk istri-istri Nabi Muhammad. Terbukti jika dirunut berdasarkan segi munasabah ayatnya. Ayat-ayat sebelum ayat ini menjelaskan tentang ketentuan-ketentuan bagi istri Nabi. Dengan kata lain, ayat ini tidak digunakan untuk membatasi wanita untuk berpolitik.

Sumber :

https://phpmag.net/facebook-tes-langganan-artikel-instan-di-android/