Agama Hindu, “Upacara Ngaben” budaya Bali

  1. Home
  2. /
  3. Umum
  4. /
  5. Agama Hindu, “Upacara Ngaben” budaya Bali
Agama Hindu Upacara Ngaben budaya Bali

Agama Hindu, “Upacara Ngaben” budaya Bali

Posted in : Umum on by : admin

Agama Hindu, “Upacara Ngaben” budaya Bali

Agama Hindu Upacara Ngaben budaya Bali

  1. Bade

Bade merupakan alat yang digunakan untuk menghantarkan mayat menuju setra atau tempat pembakaran mayat. Bade dibuat dengan tingkatan atau tumpeng berangka ganjil seperti 1,3,5,7,9, dan yang tertinggi adalah tingkat atau tumpeng 11. Dan orang orang yang biasanya menggunakan bade adalah keluarga puri.

Selain itu bade juga memiliki fungsi sebagai berikut :

  1. Tempat membawa mayat kesetra
  2. Tempat peristirahatan terakhir bagi orang yang meninggal
  3. Tempat pembakaran mayat bila dalam upacara pengabenan tidak menggunakan petulangan

Selain itu bade juga memiliki tujuan dibuatnya Untuk mengembalikan roh atau atman yang ada dalam diri manusia ketika pembakaran dilakukan

  1. Wadah

Wadah juga dipergunakan untuk mengangkat /  menghantarkan mayat kesetra.Wadah yang dibuat hanya tingkat Satu. Selain itu wadah juga digunakan oleh siapa saja termasuk kaum sudra.

Selain itu wadah juga memiliki fungsi sebagai berikut :

  1. Tempat menghantarkan mayat
  2. Tempat peristirahatan terakhir bagi orang yang meninggal
  3. Tempat pembakaran mayat bila dalam upacara pengabenan tidak menggunakan petulangan

 

  1. Mengembalikan unsure panca maha buta

Selain itu wadah juga memiliki tujuan dibuatannya Untuk mengembalikan roh atau atman yang ada dalam diri manusia ketika pembakaran dilakukan

  1. Nagabandha

Nagabandha merupakan salah satu cara untuk melakukan upacara pitra yadnya( ngaben ). Nagabandha berbentuk seperti seekor naga yang panjang ekornya bias mencapai 3000 meter atau 3 kilometer. Di Bali upacara ngaben dengan menggunakan nagabandha hanya dilakukan oleh keluarga kerajaan saja atau orang berkasta tinggi.

Selain itu Nagabandha juga memiliki fungsi Untuk menghantarkan roh dari keluarga raja.Nagabandha juga memiliki tujuan saat dibuat yaitu Untuk mempermudah / memprcepat proses upacara pitra yadnya.

  1. Petulangan

Fungsi petulangan dalam upacara ngaben disebutkan sangat erat kaitannya dengan kepercayaan nenek moyang terhadap binatang-binatang yang dianggap suci, keramat, memiliki kekuatan dan dijadikanlambang-lambang tertentu. SepertiWahana – Wahana paradewaTri Murti dalam petulangan :

  1. Di Bali kepercayaan terhadap binatang lembu sebagai binatang yang disucikan. Lembu dipercaya sebagai wahananyaDewaSiwa.
  2. Dewa Brahma dipandang sebagai dewa pencipta segala yang ada, wahananya binatang singa.
  3. Sedangkan Dewa Wisnu berfungsi sebagai pemelihara, wahananya naga. Binatang-binatang tersebut disucikan, dihormati, sebagaimana menghormati dewa-dewa dengan manifestasinya masing-masing.

Menurut Drs. Ida Bagus Purwita dari Griya Yang Batu Denpasar, (sekarang sulinggih) meninjau dari segi filosofinya bahwa perwujudan petulangan dengan motif binatang, mengandung arti sebagai petunjuk jalan kesorga bagi roh orang yang telah meninggal dunia. Juga menurut lontar awig-awig desa adat di Denpasar milik Mangku Jero Kuta, Jagat Wewengkon Badung pemakaianbentuk petulangan diatur menurut susunan kasta yang ada di Bali yaitu sebagai berikut:

  • Bagi wangsa sudra memakai petulangan bentuk gedarba atau bentuk macan, atau bentuk gajah  mina.
  • Sang Aria memakai petulanggan berbentuk menjangan.
  • Sang Kesatria memakai petulangan bentuk singa.
  • Brahmana memakai petulangan bentuk lembu hitam dan Pendeta memakai petulangan bentuk lembu putih.

Dengan demikian fungsipetulangan adalah sebagai berikut :

  1. Dalam pengertian umum petulangan berfungsi sebagai tempat membakar jenasah dan secara spiritual, berfungsi sebagai pengantar roh kealam roh (sorga atau neraka) sesuai dengan hasil perbuatan di dunia.
  2. Menunjukkan watak dan kewajiban seseorang dalam masyarakat.
  3. Menunjukkan rasa bakti dan penghormatan terhadap paradewa, karena dengan meniru wahananya sebagai sarana upacara. Maka seolah- olah lebih dekat dengan Ida Sang Hyang Widhi.
  4. Sebagai pernyataan rasa seni yang menimbulkan kepuasan batin bagi yang diupacarai, orang yang menyelenggarakan upacara,

Tujuan dari pembuatan petulangan :

  1. Mengembalikan unsure panca maha buta
  2. Untuk mengembalikan roh atau atman yang ada dalam diri manusia
  3. Bukur

Bukurbiasanyadigunakansaatnyekahataumemukurdalamupacarapitrayadnya.

Fungsi dari bukur adalah Untuk mengembalikan roh atau atman yang ada dalam diri manusia

Tujuan dibuatnya bukur dalam upacara pitra yadnya Sebagai alat untuk menghantarkan roh atau atman kealamnya.


Baca Juga :