Kalimantan Tengah

  1. Home
  2. /
  3. Umum
  4. /
  5. Kalimantan Tengah
Kalimantan Tengah

Kalimantan Tengah

Posted in : Umum on by : admin

Table of Contents

Kalimantan Tengah

Kalimantan Tengah

Kalimantan Tengah

Pencapaian target pengurangan jumlah penduduk miskin di Provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan kecenderungan yang sangat baik. Upaya penanggulangan kemiskinan Provinsi Kalimantan Tengah telah mampu secara signifikan menurunkan jumlah penduduk miskin. Persentase penduduk miskin Kalimantan Tengah tahun 1993 mencapai 20,85 persen, lalu menurun menjadi 11,86 persen tahun 2000 dan menurun kembali menjadi 9,17 persen tahun 2006. Angka tahun 2006 ini jauh di bawah angka nasional (16,58 persen) atau angka rata-rata setiap provinsi (17,6 persen). Namun demikian, jika dikaitkan dengan target pengurangan kelaparan, kinerja provinsi ini cenderung tidak berubah dari tahun ke tahun. Persentase balita kekurangan gizi tahun 1989 adalah sebesar 35,02 persen, menurun menjadi 27,38 persen tahun 2006. Meskipun cenderung tetap, namun pada tahun 2006 persentase balita kekurangan gizi ini masih sedikit di atas rata-rata nasional (28,05).

Kinerja Provinsi Kalimantan Tengah untuk mencapai target pendidikan dasar untuk semua cukup positif. APM SD/MI tahun 1992 adalah sebesar 93,3 persen, meningkat menjadi 94,3 persen tahun 2000 dan 96,0 persen tahun 2006. APM SD/MI Kalimantan Tengah pada tahun-tahun tersebut selalu berada di atas angka nasional dan angka rata-rata setiap provinsi. Sementara itu, APM SLTP/MT/MTs juga meningkat dari tahun 1992 (39,7 persen) sampai tahun 2006 (67,7 persen). Angka tahun 2006 tersebut berada di atas angka nasional yang sebesar 66,5 persen.

Rasio APM murid perempuan terhadap laki-laki (P/L) yang merupakan salah satu indikator pencapaian target kesetaraan gender untuk Kalimantan Tengah menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan meskipun cenderung turun dalam kurun waktu 2000-2006. Rasio APM P/L SD/MI tahun 1992 adalah sebesar 98,5, meningkat menjadi 101,1, lalu menurun menjadi 99,9. Meskipun menurun namun angka ini masih sedikit berada di atas angka nasional (99,4). Rasio APM P/L SLTP/MT/MTs juga meningkat pada tahun 2000 (dari 95,9 pada 1992 menjadi 104,2 pada 2000) dan menurun menjadi 102,4 pada tahun 2006. Angka tahun 2006 tersebut masih di atas angka nasional (100,0). Sementara itu, perempuan Kalimantan Tengah menunjukkan partisipasi yang relatif baik pada pekerjaan upahan. Hal ini ditunjukkan oleh indikator rasio rata-rata upah per bulan antara perempuan dan laki-laki yang mencapai 78,8. Angka ini sedikit berada di atas rata-rata nasional (74,8), namun masih berada di bawah rasio rata-rata setiap provinsi yang sebesar 80,3.

Dalam kaitannya dengan pencapaian target penurunan angka kematian anak, Kalimantan Tengah menunjukkan prestasi yang menggembirakan. AKB pada tahun 2005 hanya 4 per 1.000 kelahiran hidup, sementara AKBA mencapai 25 per 1.000 kelahiran hidup. AKB dan AKBA Kalimantan Tengah tersebut jauh melampaui angka nasional yang sebesar 8 (AKB) dan 40 (AKBA). Menurunnya angka kematian bayi dan balita ini merupakan dampak pembangunan kesehatan yang diprioritaskan pada pelayanan kesehatan bagi bayi dan balita.

Terkait dengan pencapaian target pengurangan penderita HIV/AIDS dan malaria, kinerja Kalimantan Tengah cukup baik. Pada tahun 2005, jumlah penderita AIDS hanya dua orang, namun jumlah insiden malaria mencapai 12.160 kejadian. Tingginya kejadian malaria ini menunjukkan perlunya perhatian yang lebih serius pada upaya pengendalian vektor penyebab penyakit malaria.

Luas daratan kawasan hutan merupakan salah satu indikator untuk melihat pencapaian target memastikan kelestarian lingkungan hidup. Karena luas peruntukan kawasan hutan ditentukan berdasarkan keputusan Pemerintah, maka rasio luas daratan kawasan hutan adalah sama untuk tahun 2003 dan 2005, yaitu 69,9. Berdasarkan penafsiran citra Satelit Landsat 7 ETM+ sampai tahun 2005, luas penutupan lahan dalam kawasan hutan sebesar 15,155 juta hektar. Dari luas tersebut, kawasan berupa hutan 8,897 juta hektar, kawasan hutan yang non hutan 6,252 juta hektar, dan 5.500 hektar tidak terdata. Luas hasil citra satelit ini lebih kecil jika dibandingkan dengan luas peruntukan kawasan hutan yang ditetapkan Pemerintah berdasarkan paduserasi RTRWP-TGHK. Sementara itu, akses rumah tangga terhadap air minum non-perpipaan terlindungi menunjukkan peningkatan dari tahun 1994 (30,2 persen) ke tahun 2006 (41,6 persen). Persentase tahun 2006 masih di bawah angka nasional yang sebesar 57,2 persen atau angka rata-rata setiap provinsi 53,9 persen. Peningkatan akses rumah tangga pada sanitasi yang layak meningkat secara berarti. Tahun 1992, rumah tangga yang memiliki sanitasi layak hanya sebesar 16,70 persen. Jumlah tersebut meningkat cukup signifikan menjadi 52,0 persen pada tahun 2006. Namun demikian, angka tahun 2006 masih lebih kecil dibandingkan angka nasional (69,3 persen).

Sumber : https://obatwasirambeien.id/last-day-on-earth-apk/