Hakikat Ujian

  1. Home
  2. /
  3. Pendidikan
  4. /
  5. Hakikat Ujian
Hakikat Ujian

Hakikat Ujian

Posted in : Pendidikan on by : admin

Table of Contents

Hakikat Ujian

Hakikat Ujian

Hakikat Ujian

Allah menciptakan manusia untuk diberikan ujian dan cobaan, sehingga dapat diketahui siapa saja hamba-Nya yang beriman, pandai bersyukur dan siapa saja hamba-hamba-Nya yang ingkar. Salah satu tujuan di balik ujian Allah Swt, adalah penempaan potensi manusia dan munculnya mutiara-mutiara dari dalam dirinya. Manusia yang berada dalam bejana ujian Allah Swt sama seperti batu mulia yang dibakar sehingga terbersihkan dari semua inklusi dan tampak kejernihannya. Al-Quran menyinggung hakikat ini dalam ayat 140 dan 141 surat Ali Imran, “…Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman… Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.”

Ujian bisa berupa sesuatu yang kita senangi atau bisa juga sesuatu yang kita benci. Sebagaimana firman Allah, yang artinya, Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan” (QS. Al-Anbiya : 35).

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran )” (QS. Al-A’raf : 168)

Nikmat yang baik-baik, bisa berupa kelapangan dalam hidup, kemewahan, jabatan, rizki yang berlebih, dan kenikmatan lainnya yang menyenangkan hati kita. Sedangkan bencana yang buruk-buruk bisa berupa kesengsaraan, kesempitan, musibah, kemiskinan, dan segala hal yang kita benci kehadirannya.

Namun adapula ujian yang ditimpakan kepada orang kafir dan munafik yang disebut dengan azab. Ujian yang diberikan kepada orang-orang kafir adalah bagian dari adzab Allah kepada mereka di dunia, sementara adzab yang lebih besar telah menantinya di akherat, sebagaimana firman-Nya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura : 30)“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An Nisaa : 79).

Berbeda dengan ujian bagi orang kafir atau munafik, apapun yang diterima seorang muslim baik ia berupa ujian baik berupa kesenangan ataupun ujian buruk berupa kesengsaraan, kelapangan atau kesempitan, maka semuanya adalah baik baginya karena mereka adalah orang-orang yang bersyukur ketika ditimpa kesenangan dan bersabar ketika ditimpa kesengsaraan. Tidaklah suatu musibah atau ujian itu ditimpakan kepada seorang mukmin kecuali adalah sebagai pembersih dosa dan kesalahannya di dunia sehingga tidak ada lagi baginya siksa atas dosa itu di akhirat, sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda,”Tidaklah seorang mukmin atau mukminah yang ditimpa suatu bala’ (cobaan) sehingga ia berjalan di bumi tanpa membawa kesalahan.

Didalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidaklah menzhalimi seorang mukmin, diberikan kepadanya kebaikan di dunia dan disediakan baginya pahala di akherat. Adapun orang yang kafir maka ia memakan dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukannya di dunia sehingga ketika dia kembali ke akherat maka tidak ada lagi satu kebaikan pun sebagai ganjaran baginya. (HR. Muslim).

Seringkali kita mengeluh (bahkan marah) ketika ditimpa ujian berupa musibah. Kita seakan melupakan bahwa hikmah dan faedah dibalik musibah, pada hakekatnya merupakan salah satu bentuk rahmat dan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

Sumber : https://filehippo.co.id/