Majikan Zubair r.a.

  1. Home
  2. /
  3. Umum
  4. /
  5. Majikan Zubair r.a.

Majikan Zubair r.a.

Posted in : Umum on by : admin

Table of Contents

Majikan Zubair r.a.

Ketika Zubair r.a hendak berhimpun di dalam suatu peperangan, ia memanggil anaknya yang bernama Abdullah r.a. Ia berwasiat kepada putranya bahwa jikalau berjalan suatu hal padanya, hendaknya seluruh utangnya dilunasi oleh putranya itu.

Zubair r.a. berbicara kepada Abdullah, putranya, “Wahai Anakku. Jika aku tidak lagi berasal dari peperangan ini, selesaikanlah utang-utangku. Jika kau menemui ada masalah di dalam melunasinya, mohonlah kepada majikanku sehingga melepasmu berasal dari kesukaran.”

“Siapakah majikan yang kaumaksud, Ayah?” bertanya Abdullah r.a.

“Allah SWT,” jawab sang ayah.

Sepeninggal ayahnya yang telah menjadi syuhada, Abdullah bin Zubair r.a. memeriksa buku keuangan ayahnya. Di dalamnya terdapat pinjaman sebanyak dua juta dirham yang kudu dilunasi. Hari demi hari berlalu, akhirnya seluruh pinjaman ayahnya lunas sudah.

Abdullah r.a selalu mengingat pesan ayahandanya, yaitu disaat ia menemukan kesukaran, ia bakal mengadu kepada Sang Majikan – Allah SWT – untuk memohon pertolongan. Dengan demikian, seluruh kesukaran yang menghadang bakal lenyap.

Suatu disaat Abdullah bin Zubair r.a tengah berdagang dengan saudaranya, Ibnu Ja’far r.a Ia berbicara kepada saudaranya tersebut, “Aku memperoleh di dalam catatan ayahku bahwa kau berutang kepada ayahku satu juta dirham.”

Ibnu Ja’far r.a mengiyakan pinjaman tersebut, seraya berkata, “Baiklah, engkau bisa mengambil alih duwit berikut kapan pun kausuka.”

Namun, disaat Abdullah r.a memeriksa lagi catatan ayahnya, ternyata ayahnyalah yang berutang kepada Ibnu Ja’far r.a. Kemudian ia pun langsung menemui Ibnu Ja’far r.a untuk meralat tagihannya. Abdullah r.a meluruskan kesalahannya, “Wahai saudaraku, maafkan aku dikarenakan sebetulnya aku telah melakukan kekeliruan kepadamu. Ternyata ayahku yang memiliki pinjaman kepadamu.”

Tidak ada kemarahan atau cemoohan berasal dari Ibnu Ja’far r.a, bahkan ia merelakan pinjaman bapak saudaranya tersebut, “Jika sebetulnya demikian, aku telah menghalalkan pinjaman ayahmu kepadaku,” ujarnya.

Tawaran berikut tidak diterima dengan halus oleh Abdullah r.a seraya berkata, “Tidak, wahai saudaraku. Aku bakal membayarnya.”

Ibnu Ja’far r.a lagi menawarkan keringanan di dalam membayar pinjaman saudaranya, “Baiklah, kau boleh membayar semampumu.”

Tawaran itu disambut baik oleh Abdullah r.a, “Sebagai pindah pinjaman ayahku, maukah kauterima sebidang tanah yang kecil?” tawarnya.

“Ya, jikalau engkau tidak keberatan,” ujar Ibnu Ja’far r.a.

Ketika dilihatnya tanah untuk membayar pinjaman berikut tandus dan kering, Ibnu Ja’far r.a menggelar sajadah dan mendirikan shalat dua rakaat di atas tanah tandus tersebut.

Setelah lumayan lama bersujud, ia menunjuk ke suatu tempat yang masih berada di wilayah tanah itu dan menyuruh seorang hamba sahaya untuk menggalinya. Dari tempat penggalian tersebut, ternyata memancar sebuah mata air. Keadaan seperti itu bukanlah kejadian luar biasa. Para sobat sering mengalami keajaiban-keajaiban seperti itu.

Catatan:
Nama asli Ibnu Ja’far r.a adalah Abdullah bin Ja’far r.a. Penulis gunakan nama Ibnu Ja’far sehingga tidak tertukar dengan Abdullah bin Zubair r.a sehingga memudahkan pembaca untuk menyadari cerita. Ibnu Ja’far r.a mewarisi cii-ciri ayahnya, Ja’far Ath-Thayar yang dijuluki Abu Al-Masakin atau bapaknya orang miskin. Ibnu Ja’far r.a pun memperoleh gelar berasal dari penduduk setempat, yaitu Qutbus Sakha yang berarti kepala para dermawan.

Sumber : tutorialbahasainggris.co.id/

Baca Juga :