Allah SWT sebagai Saksi

  1. Home
  2. /
  3. Pendidikan
  4. /
  5. Allah SWT sebagai Saksi

Allah SWT sebagai Saksi

Posted in : Pendidikan on by : admin

Table of Contents

Allah SWT sebagai Saksi

Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw dulu bercerita perihal dua orang Bani Israel yang meminjamkan duit sebesar 1.000 dinar kepada temannya. Uang sebesar itu bukanlah kuantitas yang sedikit. Kemudian si pemberi utang meminta temannya yang dapat ia pinjami duit untuk mendatangkan seorang saksi.

Ia berkata, “Datangkanlah lebih dari satu saksi sehingga mereka lihat utang piutang ini.”

Temannya menjawab, “Cukuplah Allah sebagai saksi bagiku!”

Kemudian si pemberi utang meminta lagi, “Datangkanlah seseorang yang sanggup menjamin utangmu!”

Temannya lagi menjawab, “Cukuplah Allah yang menjaminku!”

Pemberi utang pun berkata, “Engkau benar!”

Setelah itu, ia beri tambahan 1.000 dinar kepada temannya dan menetapkan saat pengembaliannya. Semua didasarkan atas saling percaya karena mereka menjadikan Allah SWT sebagai saksi dan penjamin.

Kemudian kawan yang berutang itu pun pergi berlayar untuk suatu keperluan. Waktu berlalu dan tibalah saat pembayaran utang yang sudah mereka sepakati. Teman yang berutang melacak kapal sehingga ia sanggup lagi ke daerahnya untuk melunasi utangnya.

Namun, kapal yang menuju daerahnya tidak kunjung tiba. Ia pun mengusahakan melacak kapal yang sanggup membawanya kembali, tapi hasilnya nihil. Kemudian ia pun mengambil alih sebatang kayu dan melubanginya, lantas memasukkan duit 1.000 dinar ke dalamnya dan sebuah surat kepada temannya.

Setelah menutup rapat kayu tersebut, ia menuju laut seraya berkata, “Ya Allah, sungguh Engkau sudah tahu bahwa aku meminjam duit kepada kawan aku sebanyak 1.000 dinar. Ia memintaku seorang penjamin dan kukatakan bahwa lumayan Engkau sebagai penjamin dan ia mau dengannya. Aku pun sudah mengusahakan keras untuk memperoleh kapal sehingga sanggup mengembalikan duit yang sudah aku pinjam darinya, tapi aku tidak memperoleh kapal itu. Karena itu, aku titipkan ia kepada-Mu.”

Lalu, ia melemparkan kayu berisi duit yang jumlahnya besar tersebut ke laut sehingga terapung-apung, lantas ia pulang.

Sementara itu, temannya yang memberi utang menyusuri tepian laut menunggu kehadiran temannya yang dapat melunasi utang. Namun, ia tidak lihat satu kapal pun bertepi di lautnya. Tiba-tiba ia lihat potongan kayu terdampar di hadapannya. Terbesit dalam pikirannya untuk memakai kayu tersebut sebagai kayu bakar. Kemudian dibawalah kayu itu pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, ia membelah kayu tersebut bersama dengan istrinya. Alangkah terkejutnya mereka ketika lihat di dalamnya terkandung duit 1.000 dinar. Tidak tidak cukup dan tidak lebih.

Mereka membaca surat yang diselipkan di dalam kayu tersebut. Akhirnya, mereka tahu bahwa kayu itu adalah kiriman temannya yang berutang untuk melunasi utangnya. Mereka pun memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang sudah mengantarkan kayu tersebut sampai sampai kepada yang berhak.

Beberapa hari kemudian, kawan yang dulu berutang datang ke tempat tinggal temannya yang meminjami utang. Ia belum tahu kecuali kayu itu sudah sampai bersama dengan selamat ke tujuannya.

Kemudian ia membawa duit 1.000 dinar untuk dibayarkan seraya berkata, “Demi Allah, aku konsisten mengusahakan untuk memperoleh kapal sehingga sanggup sampai kepadamu bersama dengan uangmu, tapi aku serupa sekali tidak memperoleh kapal. Baru saat ini aku sanggup memperoleh kapal yang mengantarku kemari.”

Teman yang memberi utang berkata, “Bukankah engkau sudah melunasi utangmu?”

Temannya menjawab, “Bukankah aku sudah beritahukan kepadamu bahwa aku tidak memperoleh kapal sebelum akan ini dan baru saat ini aku tiba di sini?”

“Sesungguhnya Allah sudah menunaikan apa yang sudah engkau kirimkan kepadaku lewat kayu. Oleh karena itu, bawalah duit 1.000 dinarmu kembali. Semoga keberkahan tetap menyertaimu!”

Akhirnya, mereka berdua benar-benar lihat bahwa utang piutang pada mereka melibatkan pertolongan Allah SWT yang nyata sebagai saksi dan penjamin.

Kisah ini merupakan penjelasan ayat Al-Qur’an Surat Ali Imran [3]: 75-76, “Dan di antaraAhli Kitab ada yang kecuali engkau percayakan kepadanya harta yang banyak, niscaya dia mengembalikannya kepadamu. Tetapi ada (pula) di pada mereka yang kecuali engkau percayakan kepadanya satu dinar, dia tidak mengembalikannya kepadamu, kecuali kecuali engkau tetap menagihnya. Vam» demikian itu disebabkan mereka berkata, “Tidak ada dosa bagi kita terhadap orang-orang buta huruf.” Mereka menjelaskan hai yang dusta terhadap Allah, padahal mereko mengetahui. Sebenarnya barangsiapa menepati janji dan bertakwa maka sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran [3]: 75-76)

Sumber : tokoh.co.id/

Baca Juga :