Pemecahan Permasalahan Akibat Keberagaman Budaya

  1. Home
  2. /
  3. Pendidikan
  4. /
  5. Pemecahan Permasalahan Akibat Keberagaman Budaya

Pemecahan Permasalahan Akibat Keberagaman Budaya

Posted in : Pendidikan on by : admin

Pemecahan Permasalahan Akibat Keberagaman Budaya

Pemecahan Permasalahan Akibat Keberagaman Budaya
Dalam kehidupan masyarakat bisa ditemukan terdapatnya 2 macam persoalan, yakni;
Masalah masyarakat (scientific or social problems) adalah permasalahan yang menyangkut analisis tentang macammacam tanda-tanda kehidupan masyarakat.
Problema sosial (ameliorative or social problems) adalah permasalahan yang berkenaan bersama gejala-gejala abnormal masyarakat bersama maksud untuk melakukan perbaikan atau apalagi untuk menghilangkannya.

Namun terhadap prinsipnya kasus sosial menyangkut nilai-nilai sosial dan moral. Kriteria utama suatu kasus sosial adalah tidak terdapatnya kesesuaian antara ukuran-ukuran dan nilai-nilai sosial bersama kenyataan serta tindakan-tindakan sosial. Unsur utama berasal dari kasus sosial adalah terdapatnya perbedaan yang mencolok antara nilai-nilai bersama kondisi-kondisi nyata di dalam kehidupan.

Adapun beberapa kasus sosial yang dihadapi masyarakat terhadap umumnya sebagai berikut;
1. Kemiskinan
Kemiskinan adalah suatu keadaan di mana seseorang tidak bisa mencukupi keperluan pokok keluarga secara lumrah / layak, yang disebabkan oleh penghasilan kecil/sedikit. Misalnya: makan tidak bisa 3 kali sehari bersama gizi yang memadai dan tidak bisa membiayai sekolah anakanaknya.

2. Kejahatan
Kejahatan merupakan tabiat melawan hukum atau norma yang berlaku untuk beroleh keuntungan bagi diri atau kelompoknya. Dalam kehidupan modern ditemukan terdapatnya tanda-tanda “white collar crime” atau “kejahatan kerah putih”, suatu bentuk kejahatan yang ditunaikan oleh orang-orang berduit untuk melawan hukum. Misal: melaksanakan penyuapan, manipulasi knowledge untuk menjauhi pajak, dan korupsi.

3. Disorganisasi keluarga
Disorganisasi keluarga adalah perpecahan keluarga sebagai suatu unit, dikarenakan anggota-anggotanya gagal mencukupi kewajibannya sesuai bersama peranan sosialnya. Disorganisasi keluarga bisa berupa: perceraian, hilangnya komunikasi antaranggota keluarga, jalinan di luar perkawinan, perselingkuhan, dan krisis keluarga.

4. Masalah generasi muda di dalam masyarakat modern
Masalah generasi muda terhadap umumnya ditandai bersama permintaan untuk melawan dan sikap yang apatis. Masalah generasi muda terlihat dikarenakan kurangnya penanaman nilai-nilai sosial oleh orang tua, munculnya organisasi-organisasi pemuda informal yang perilakunya tidak disukai para orang tua dan munculnya usaha berasal dari generasi muda untuk mengadakan perubahan-perubahan di dalam masyarakat yang disesuaikan bersama nilai-nilai kaum muda.

5. Peperangan
Masalah peperangan tidak sama bersama kasus sosial lainnya dikarenakan menyangkut beberapa masyarakat sekaligus, supaya butuh kerjasama internasional untuk penyelesaiannya. Peperangan membawa dampak disorganisasi di dalam pelbagai faktor kemasyarakatan, baik bagi negara yang terlihat sebagai pemenang ataupun negara yang menderita kekalahan.

6. Pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat
Bentuk pelanggaran terhadap norma masyarakat yang menyebabkan permasalahan sosial antara lain di dalam bentuk; pelacuran (prostitusi), kenakalan anak (delinquency), alkoholisme, homoseksualitas, maupun bentuk tabiat menyimpang lainnya.

7. Masalah kependudukan
Penduduk bagi suatu negara merupakan modal basic pembangunan, dikarenakan masyarakat merupakan subjek sekaligus objek pembangunan. Negara bertanggung jawab terhadap pemenuhan kesejahteraan penduduk. Negara bakal mengalami halangan yang besar manakala kuantitas masyarakat yang meningkat pesat tanpa diimbangi bersama peningkatan produksi.

8. Masalah lingkungan hidup
Modernisasi merupakan upaya yang ditujukan untuk menaikkan kesejahteraan bagi penduduk, tapi dampak negatif berasal dari modernisasi adalah terjadinya pencemaran lingkungan alam yang membawa dampak rusaknya lingkungan.

9. Birokrasi
Birokrasi adalah suatu organisasi yang ditujukan untuk mengerahkan tenaga bersama teratur dan tetap menerus demi tercapainya obyek tertentu. Birokrasi merupakan organisasi yang bersifat hirarkis yang ditetapkan secara rasional untuk mengkoordinasikan pekerjaan orang-orang demi keperluan pelaksanaan tugas-tugas administratif.
Menurut pandangan Max Weber, birokrasi paling sedikit termasuk 5unsur, yakni;
organisasi
pengerahan tenaga
sifat yang teratur
bersifat tetap menerus
mempunyai tujuan.
Jika diamati terhadap jatah kekuasaan maka di di dalam suatu organisasi terdapat;
penguasa dan mereka yang dikuasai
hirarki, yaitu urut-urutan kekuasaan secara vertikal atau bertingkat berasal dari atas ke bawah
ada jatah tugas horizontal, yaitu jatah tugas antara beberapa bagian, di mana bagian-bagian itu mempunyai kekuasaan dan wewenang yang setingkat / sederajat
ada suatu kelompok sosial.
Berkaitan bersama keberagaman kebudayaan di dalam kehidupan masyarakat majemuk, terkandung beragam permasalahan, antara lain;
1. Etnosentrisme
Masalah besar yang menempel terhadap pluralisme kebudayaan adalah konsep etnosentrisme, yaitu keyakinan bahwa kebudayaan sendiri lebih baik daripada semua kebudayaan lain. Menurut Melvile Herkovits, setiap kebudayaan yang melembagakan etnosentrisme pada akhirnya mendasarkan kebijaksanaannya atas keadaan psikokultural yang tidak riil. Salah satu perumpamaan bentuk etnosentrisme yang paling mengesankan di dalam histori kehidupan manusia modern adalah Nazi Jerman. Orang Jerman di bawah Hitler berasumsi dirinya sebagai ras terpilih yang ditakdirkan untuk memerintah dunia.

Mereka menghendaki menanamkan kebudayaan mereka, yakni; kesenian, politik, teknologi, bahasa, dan agama mereka di negara-negara yang mereka taklukkan. Pada prinsipnya sikap etnosentrisme punya kecenderungan destruktif terhadap kebudayaan-kebudayaan lain, supaya membawa dampak disintegrasi dan disorganisasi di dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.

2. Anomie
Anomie adalah suatu tanda-tanda sosial yang terlalu unik sebagai akibat terdapatnya pergantian sosial-budaya yang tetap bergantian, kala itu proses nilai yang berlaku di dalam masyarakat tidak mengalami perubahan. Oleh dikarenakan itu, masyarakat seolah kehilangan pedoman untuk pilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Dalam histori kehidupan manusia, setiap pergantian pola kepemimpinan suatu kelompok masyarakat atau negara bakal berjalan gejolak yang condong bersifat anarkhis. Keruntuhan rezim Saddam Hussein di Irak membawa dampak terjadinya kerusuhan, penjarahan, dan tindak kekerasan di semua penjuru Irak. Anomie berjalan sebagai dampak negatif terjadinya pergantian kebudayaan yang bersifat frontal.

3. Cultural lag
Proses penyebaran kebudayaan asing tidak tetap berjalan serentak, melainkan kadang hanya sepotongsepotong, supaya menyebabkan suatu bentuk ketimpangan kebudayaan atau cultural lag. Kemajuan pengetahuan pengetahuan dan teknologi yang merupakan bentuk pergantian kebudayaan yang berasal berasal dari proses difusi atau penyebaran kebudayaan yang tidak disertai bersama penyesuaian sikap mental yang seirama bersama pergantian kebudayaan, bakal membawa dampak ketertinggalan budaya atau ketimpangan budaya.

Dalam kehidupan masyarakat luas nampak nyata bahwa modernisasi yang terwujud di dalam bentuk kebudayaan materiil tidak diimbangi bersama kemajuan kebudayaan immateriil. Contoh: banyak pesawat telepon lazim yang tidak berfaedah dikarenakan ulah tangan jahil. Salah satu perumpamaan konkret terdapatnya ketimpangan budaya di tengah masyarakat, di mana masyarakat sudi terima hasil teknologi maju tanpa diimbangi bersama pengetahuan yang memadai tentang perlunya perawatan terhadap benda-benda teknologi modern itu.

Menurut William F. Ogburn, banyak permasalahan yang disebabkan oleh ketidakmampuan manusia menyesuaikan diri bersama problema yang tetap menerus terlihat di dalam kebudayaan dan lembaga-lembaganya. Suatu ketertinggalan (lag) termasuk berjalan andaikan laju pergantian berasal dari dua atau lebih unsur-unsur kebudayaan yang mempunyai korelasi tidak sebanding, supaya unsur yang satu tertinggal oleh unsur lainnya. Terutama di dalam hal kebudayaan materiil bersama kebudayaan nonmateriil.

4. Mestizo culture
Mestizo culture, yaitu suatu proses percampuran unsur kebudayaan yang satu bersama unsur kebudayaan lain yang punya lambang dan karakter berbeda. Ciri yang nampak berasal dari pergantian ini yaitu karakter formalismenya yang hanya bisa mengikuti bentuknya tanpa sadar makna sesungguhnya. Contohnya; peningkatan pola pamer kekayaan akibat berasal dari iklan atau promosi yang ditawarkan.

Kondisi psikologis yang berkenaan di dalam tanda-tanda mestizo culture adalah munculnya kekhawatiran dan ketidakpuasan seseorang terhadap apa yang udah dimilikinya. Kondisi semacam ini merupakan sasaran empuk bagi produsen benda-benda konsumsi yang tetap menerus tawarkan product terbarunya setiap saat. Kondisi demikian ini memudahkan munculnya disintegrasi sosial akibat terdapatnya kesenjangan antara masyarakat kelas bawah, kelas menengah, dan kelas atas.

5. Rejection (penolakan)
Proses pergantian kebudayaan yang berjalan terlalu cepat sering menyebabkan penolakan berasal dari sejumlah besar bagian masyarakat, terlebih berasal dari kalangan generasi tua atau kelompok konservatif yang tetap terlalu memegang teguh adat istiadat tradisional. Akulturasi di dalam tingkat tertentu besar kemungkinannya bakal timbul pemberontakan dan revolusi, contohnya terjadinya Revolusi Kuba dan Revolusi Merah di Cina.

Penerapan program keluarga berencana di Indonesia terhadap awalannya beroleh banyak tantangan. Kalangan tertentu banyak menentang program keluarga berencana sebagai suatu tabiat menyimpang yang melawan kodrat. Namun di dalam perkembangan lebih lanjut program keluarga berencana di terima sebagai salah satu alternatif paling baik untuk menanggulangi laju kepadatan penduduk.

Berbagai usaha udah ditunaikan manusia untuk menanggulangi beragam kasus sosial. Berbagai analisis dan metode udah diterapkan, tapi permasalahan tetap ada. Metode yang dipergunakan di dalam pemecahan kasus sosial tersedia yang bersifat preventif dan tersedia pula yang bersifat represif.

Metode pemecahan kasus yang bersifat preventif lebih sulit diterapkan dikarenakan harus didasarkan terhadap penelitian yang mendalam terhadap sebab-sebab terjadinya kasus sosial.
Adapun metode represif lebih banyak dilaksanakan, yaitu bersama langkah mengambil alih suatu tindakan untuk menanggulangi munculnya tanda-tanda permasalahan. Di di dalam menanggulangi kasus sosial tidak harus semata-mata memandang faktor sosiologis tapi termasuk aspek-aspek lainnya. Dengan demikian digunakan pengetahuan pengetahuan kemasyarakatan terhadap terlebih untuk memecahkan kasus sosial yang dihadapi.

Berkaitan bersama kasus disorganisasi sebagai akibat terdapatnya pergantian kebudayaan yang berjalan secara tetap menerus, salah satu usaha untuk menanggulangi kasus disorganisasi adalah bersama mengadakan suatu perencanaan sosial (social planning) yang baik. Untuk mengadakan perencanaan sosial yang baik terlebih dahulu harus ditelaah masalah-masalah sosial yang tengah dihadapi masyarakat.

Perencanaan sosial (social planning) menjadi ciri lazim bagi masyarakat yang tengah mengalami pergantian atau perkembangan. Menurut pandangan sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan terhadap pengertian tentang bagaimana kebudayaan berkembang berasal dari taraf yang rendah ke taraf yang modern dan kompleks. Selain itu harus tersedia pengertian terhadap jalinan manusia bersama alam sekitar, jalinan antara golongan-golongan di dalam masyarakat, dan pengaruh-pengaruh penemuan baru terhadap masyarakat dan kebudayaan.

Suatu perencanaan sosial harus didasarkan terhadap spekulasi / cita-cita terhadap keadaan yang sempurna. Perencanaan sosial berasal dari sudut sosiologi merupakan alat untuk beroleh perkembangan sosial, yaitu bersama jalan menguasai serta manfaatkan kapabilitas alam dan sosial serta menciptakan tata teratur sosial.

Perencanaan sosial termasuk punya tujuan untuk menghilangkan / menghalangi keterbelakangan unsur-unsur kebudayaan material / teknologi. Suatu tanda-tanda dewasa ini adalah munculnya kasus sosial yang disebabkan oleh keterbelakangan di bidang teknologi. Beberapa bentuk permasalahan yang berkenaan bersama penyalahgunaan sumber-sumber alam, demoralisasi kehidupan keluarga, angka kejahatan yang tinggi, dan sakit jiwa, merupakan akibat berasal dari keterbelakangan di bidang teknologi.

Hal pertama yang harus ditempuh untuk menanggulangi permasalahan berikut adalah bersama menyesuaikan lembaga-lembaga kemasyarakatan bersama kondisi-kondisi kemajuan serta perkembangan teknologi yang ada. Sesudah hal itu diatasi barulah menanggulangi permasalahan-permasalahan yang mengganggu masyarakat. Penyesuaian terhadap kehidupan yang berkembang terkait terhadap terdapatnya suatu pengertian tentang bekerjanya masyarakat.

Menurut George A Ludenberg, ketidaksanggupan memecahkan kasus disebabkan oleh;
kurangnya pengertian terhadap karakter hakikat masyarakat dan kekuatan-kekuatan yang membentuk jalinan antar manusia
kepercayaan bahwa kasus sosial bisa diatasi bersama terdapatnya permintaan untuk memecahkan permasalahan berikut tanpa mengadakan penelitian-penelitian yang mendalam dan objektif.
Menurut Ludenberg, kesukaran yang utama terletak terhadap keyakinan lazim bahwa hubungan-hubungan sosial tidak tunduk terhadap penelitian ilmiah. Juga dikarenakan masyarakat yakin bahwa pemecahan-pemecahan kasus sosial udah diketahui dan tinggal diterapkan saja. Kepercayaan berikut merupakan analisis yang keliru, dikarenakan setiap kasus sosial harus diteliti supaya diketahui faktor-faktornya supaya diketemukan cara-cara untuk mengatasinya. Perencanaan sosial bukanlah semata-mata menjadi tugas para pakar ataupun aparat negara, melainkan butuh pemberian masyarakat, dikarenakan masyarakat terlibat di dalamnya. ciri ciri makhluk hidup tema 1 kelas 3

Suatu perencanaan sosial tidak bakal berarti kecuali individu-individu bagian masyarakat tidak belajar untuk menelaah gejalagejala sosial secara objektif, supaya tiap-tiap bisa turut serta di dalam perencanaan itu. Untuk melaksanakan perencanaan sosial bersama baik dibutuhkan organisasi yang baik, yang berarti terdapatnya tekun di satu pihak serta hilangnya kebebasan di pihak lain. Suatu konsentrasi wewenang termasuk dibutuhkan untuk merumuskan dan menjalankan perencanaan supaya tidak terseret oleh perubahan-perubahan tekanan atau kepentingan-kepentingan berasal dari golongan yang udah mapan. Perlu terdapatnya upaya proses pelembagaan di dalam diri warga masyarakat di dalam hal perencanaan sosial itu.

Baca Juga :