Proses Perubahan Sosial Di Masyarakat Indonesia

  1. Home
  2. /
  3. Pendidikan
  4. /
  5. Proses Perubahan Sosial Di Masyarakat Indonesia

Proses Perubahan Sosial Di Masyarakat Indonesia

Posted in : Pendidikan on by : admin

Proses Perubahan Sosial Di Masyarakat Indonesia

Dalam kegiatan komunikasi, tentu akan berjalan pertukaran dan bahkan penyebaran gagasan-gagasan, keyakinan-keyakinan, dan bahkan penyebaran hasil kebudayaan yang berbentuk fisik. Komunikasi tersebut akan segera diikuti oleh lebih dari satu sistem lanjutan, yaitu difusi, akulturasi, asimilasi, dan akomodasi.

Difusi merupakan suatu sistem penyebaran atau perembesan unsur-unsur kebudayaan yang berbentuk gagasan-gagasan, keyakinan-keyakinan, serta hasil-hasil kebudayaan berasal dari seseorang atau sekelompok orang yang satu kepada seseorang atau sekelompok orang yang lainnya. Berangkat berasal dari pengertian tersebut bisa dibedakan ada dua model difusi, yakni: (1) difusi intra-masyarakat ( intra society diffusion ), yaitu sistem difusi yang berjalan antar
individu atau antargolongan dalam suatu masyarakat, dan (2) difusi antar-masyarakat (intersociety diffusion), yaitu sistem difusi yang berjalan antara suatu penduduk yang satu pada penduduk yang lainnya.

Proses terjadinya, difusi bisa dibedakan atas tiga macam, yaitu sebagai berikut:
1. Perembesan damai
Perembesan damai merupakan suatu sistem masuknya unsur-unsur baru, baik yang berbentuk gagasan-gagasan, keyakinan-keyakinan, maupun kebudayaan fisik ke dalam suatu penduduk tanpa ada kekerasan.
2. Perembesan bersama kekerasan (penetration violence)
Perembesan bersama kekerasan (penetration violence) merupakan suatu sistem masuknya unsur-unsur baru, baik yang berbentuk gagasan-gagasan, keyakinan-keyakinan, maupun kebudayaan fisik ke dalam suatu penduduk lewat kekerasan dan paksaan supaya mengakibatkan kerusakan sistem nilai, sistem norma, dan sekaligus sistem kebudayaan pada penduduk penerima.
3. Perembesan simbiotik
Perembesan simbiotik merupakan sistem saling memberi dan saling terima pada ada gagasan-gagasan, keyakinan-keyakinan, maupun kebudayaan fisik lainnya yang berjalan antara dua penduduk atau lebih.
Terdapat tiga macam perembesan simbiotik, yaitu:
(1) perembesan simbiotik mutualistik, yaitu suatu sistem perembesan simbiotik yang saling untungkan antara kedua belah pihak, (2) perembesan simbiotik komersialistik, yaitu suatu sistem perembesan simbiotik yang menempatkan tidak benar satu pihak dalam posisi beruntung, namun pihak yang lainnya tidak jadi dirugikan, dan (3) perembesan simbiotik parasitistik, yaitu suatu sistem perembesan simbiotik yang menempatkan tidak benar satu pihak dalam posisi beruntung, namun pihak yang lainnya dirugikan.

Akulturasi merupakan suatu sistem bertemunya dua kebudayaan atau lebih, baik yang berbentuk kompleks ide, kompleks perilaku, dan kompleks hasil perilaku, supaya menciptakan suatu wujud kebudayaan baru tanpa kudu menghalau ciri-ciri khas berasal dari kebudayaan yang tersedia sebelumnya. Beberapa umpama akulturasi tersebut bisa diperhatikan pada struktur pemerintahan pada jaman kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, pembangunan masjid-masjid pada jaman kerajaan Islam, dan lain sebagainya.

Asimilasi merupakan sistem jalinan antara dua kebudayaan atau lebih yang berjalan secara intensif dalam sementara yang relatif lama supaya tiap-tiap kebudayaan tersebut sangat beralih dalam wujudnya yang baru yang tidak serupa bersama wujud aslinya. Proses asimilasi akan tambah cepat jika di dukung oleh lebih dari satu faktor, seperti:
(1) ada toleransi antarkebudayaan yang berbeda,
(2) ada kesempatan-kesempatan yang sebanding dalam bidang ekonomi,
(3) ada sikap menjunjung pada orang asing tersebut kebudayaannya,
(4) ada sikap terbuka berasal dari para penguasa,
(5) ada persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan,
(6) terjadinya perkawinan campuran (amalgamation), dan
(7) ada musuh bersama berasal dari luar.

Contoh paling nyata berasal dari sistem asimilasi tersebut bisa diperhatikan dalam kehidupan penduduk muslim di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Buleleng, Bali. Secara keyakinan, penduduk Desa Pegayaman tersebut merupakan pemeluk agama Islam yang taat. Akan namun terkandung lebih dari satu unsur kebudayaan lain yang tidak serupa mirip sekali bersama kebudayaan penduduk Muslim lainnya sebagai akibat berasal dari sistem jalinan yang panjang bersama penduduk Hindu yang hidup berdampingan secara damai di sekitarnya. Beberapa hasil berasal dari sistem asimilasi yang berjalan dalam kehidupan penduduk Muslim di Desa Pegayaman tersebut antara lain keluar pada sistem penamaan anak yang pakai arti Gede, Wayan, Putu, Ketut dan sebagainya yang lazim digunakan oleh penduduk Bali. Selain itu penduduk Desa Pegayaman termasuk mengembangkan sistem pengairan yang diorganisasi sedemikain rupa supaya mirip bersama sistem Subak, dan tetap banyak rutinitas dan kebudayaan lain yang merupakan asimilasi bersama penduduk Bali. Proses asimilasi akan susah berjalan dalam kehidupan penduduk mana sementara terkandung lebih dari satu segi sebagai berikut:
1. terisolirnya kehidupan suatu group masyarakat,
2. kurangnya pengetahuan berkenaan kebudayaan yang berkembang dalam kehidupan penduduk lainnya,
3. perasaan kuatir dan menutup diri pada dampak kebudyaan lain,
4. perasaan bahwa kebudayaannya lebih tinggi dibandingkan bersama kebudayaan lainnya,
5. ada perbedaan ras, yaitu perbedaan ciri-ciri fisik seperti warna dan wujud rambut, warna dan wujud mata, warna kulit, postur tubuh, dan lain sebagainya,
6. jati diri group atau kesukuan (in-group feeling) yang sangat kuat,
7. terjadinya gangguan-gangguan yang dikerjakan oleh golongan mayoritas pada golongan minoritas, dan
8. ada perbedaan kepentingan.
Akomodasi merupakan suatu kondisi yang memungkinkan terjadinya sistem jalinan yang seimbang, baik antara individu bersama individu, antara individu bersama kelompok, maupun antara group bersama group supaya berjalan saling pengertian, saling pemahaman, dan saling penghormatan pada keberadaan sistem nilai dan sistem norma yang berkembang dalam kehidupan penduduk yang bersangkutan. Karena sifatnya yang positif, akomodasi sering diusahakan untuk menciptakan stabilitas dalam kehidupan bermasyarakat. Adapun target berasal dari akomodasi antara lain adalah untuk:
(1) mengurangi perbedaan dan pertentangan,
(2) mencegah terjadinya bentrokan,
(3) menciptakan iklim yang memungkinkan terjadinya kerja sama, dan
(4) mengupayakan terjadinya asimilasi supaya kehidupan penduduk akan tambah stabil.

Adapun bentuk-bentuk berasal dari akomodasi antara lain adalah sebagai berikut:
a. Kompromi (compromise)
Kompromi merupakan suatu usaha yang ditempuh untuk mengendalikan konfik bersama cara membentuk kesepakatan bersama atau saling mengurangi tuntutan satu mirip lain.

b. Arbitrasi (arbitration)
Arbitrasi merupakan suatu usaha untuk mengendalikan konflik bersama cara menunjuk pihak ketiga yang ditunjuk oleh pihak-pihak yang terlibat konflik. Dalam arbitrasi, pihak ketiga tersebut berwenang menyita keputusan, namun pihak-pihak yang terlibat konflik kudu terima kepitisan pihak ketiga, baik secara sukarela maupun terpaksa.

c. Mediasi (mediation)
Sama seperti arbitrasi, mediasi merupakan suatu usaha untuk mengendalikan konflik bersama cara menunjuk pihak ketiga. Akan tetapi, wewenang pihak ketiga tersebut hanya sebatas pada pemberian nasehat dan lebih dari satu alternatif jalan keluar lainnya yang tidak mengikat kepada pihak-pihak yang bertikai.

d. Konsiliasi (conciliation)
Konsiliasi merupakan suatu usaha untuk mengendalikan konflik bersama pakai lembaga-lembaga tertentu yang memungkinkan bagi tiap-tiap pihak yang bertikai bisa duduk bersama mendiskusikan persoalan-persoalan yang dipertentangkan. Tujuan berasal dari konsiliasi adalah mempertemukan keinginan-keinginan dan sekaligus keberatan-keberatan antara tiap-tiap pihak yang bertikai dalam rangka mencari persetujuan bersama.

Setiap masyarakat, kapanpun dan di manapun, akan mengalami perubahan. Dengan demikian, perubahan sosial bisa diperhatikan secara vertikal maupun secara horizontal. Melihat perubahan sosial secara vertikal dikerjakan bersama cara memperbandingkan keadaan-keadaan penduduk pada jaman lampau bersama keadaan-keadaan penduduk pada jaman sekarang. Adapun untuk memandang perubahan sosial secara horizontal bisa dikerjakan bersama memperbandingkan keadaan-keadaan suatu penduduk yang tersedia di tempat tertentu bersama keadaan-keadaan penduduk di tempat lainnya. Dengan kegiatan perbandingan tersebut diketahui ada penduduk yang terbelakang, penduduk yang sedang berkembang, dan penduduk yang telah maju.

Sehubungan bersama gambaran di atas, Soerjono Soekanto memberikan lebih dari satu karakteristik perubahan sosial yang berjalan dalam kehidupan masyarakat, yaitu sebagai berikut:
1. Tidak tersedia penduduk yang berhenti berkembang karena tiap-tiap penduduk mengalami dinamika, baik cepat maupun lambat.

2. Perubahan-perubahan yang berjalan pada instansi kemasyarakatan tertentu akan diikuti bersama perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga yang lainnya. Fenomena tersebut berjalan karena lembaga-lembaga sosial berbentuk interdependen supaya sangat susah untuk mengisolasi ada perubahan-perubahan pada instansi sosial yang tertentu saja. Perubahan sosial pada tiap-tiap instansi kemasyarakatan merupakan suatu mata rantai yang tidak mungkin bisa diputus.

3. Perubahan sosial yang sangat cepat akan menimbulkan terjadinya disorganisasi yang berbentuk sementara. Kesementaraan tersebut berjalan sehubungan bersama ada sistem penyesuaian diri dan sekaligus ada reorganisasi yang termasuk pemantapan kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang baru.

4. Perubahan-perubahan sosial tidak bisa dibatasi hanya pada bidang yang berbentuk material atau hanya pada bidang yang berbentuk spiritual saja. Perubahan-perubahan sosial sekaligus akan termasuk bidang yang berbentuk material dan bidang yang berbentuk spiritual karena antara kedua bidang tersebut berjalan jalinan timbal balik yang sangat kuat.

5. Secara tipologis perubahan-perubahan sosial bisa dikategorikan sebagai berikut: sistem sosial, segmentasi, perubahan struktural, dan perubahan-perubahan pada struktur kelompok.

Baca Juga :