Sekolah Tidak Menjamin Sukses

  1. Home
  2. /
  3. Pendidikan
  4. /
  5. Sekolah Tidak Menjamin Sukses

Sekolah Tidak Menjamin Sukses

Posted in : Pendidikan on by : admin

Sekolah Tidak Menjamin Sukses

Sebelumnya, terjemahan sukses bukan berasal dari ukuran kekayaan atau jabatan yang sukses diraih, melainkan sukses adalah sanggup hidup mandiri, sanggup jadi diri sendiri, tidak membebani lebih-lebih sampai merugikan orang lain. Orang sukses adalah orang yang keberadaannya penuh kemandirian.

Banyak orang sukses tanpa bersekolah, artinya tidak menempuh pendidikan formal. Namun orang sukses pun banyak juga yang lewat sekolah formal. Mungkin lebih banyak orang yang gagal keseluruhan justru sebab tak sempat mengenyam pendidikan formal.

Belajar di sekolah tidak menanggung sukses seseorang dalam memilih ukuran sanggup berkarya, miliki harga diri dan sebagainya. Masuk sekolah yang top, eksklusif, membayar mahal, tidak artinya apa-apa jika individu yang terkait tak miliki etos belajar yang baik. Atau masuk sekolah hanya mempunyai tujuan melacak status, melacak selembar ijazah. Masuk sekolah resmi tak memadai hanya sekadar datang, duduk, dan diam.

Memang tak sanggup kita pungkiri, ukuran pendidikan resmi yang serba positivistic itu memicu output yang terbentuk jadi layaknya information statistik; kebenaran seolah-olah sama bersama deretan angka-angka. Orientasi formalistik yang terlampau dominan dalam pendidikan resmi memicu instansi sekolah kehilangan makna hakikinya, yakni jadi tempat penanaman benih-benih intelektualitas, moralitas, dan estetika. Akibatnya, banyak lulusan pendidikan resmi yang pandai berhitung, tetapi rendah daya saingnya, ringan putus asa, ringan menderita, ringan emosi, ringan merusak.

Sekolah Tidak Menjamin Sukses
Banyak lulusan pendidikan resmi yang kapabel, terampil, dan bermoral. Ia mempunyai kapabilitas tertentu sebagai karya cipta yang di satu sisi sanggup menghidupi dirinya sendiri, dan berfungsi juga untuk orang lain. Namun jenis manusia layaknya itu juga sanggup lahir berasal dari hasil otodidak meski bersama kuantitas yang tidak signifikan. Kenyataan, banyak orang yang tak beruntung menggapai peluang belajar di sekolah resmi hidupnya kacau, mengakibatkan kerusakan diri sendiri dan orang lain.

Meski sekolah resmi tidak sanggup menanggung keberhasilan dalam hidup, setidaknya bersama bersekolah selagi ini tetap memadai layak sebagai instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa (meski belum terlampau memuaskan).

Paling tidak, bersama bersekolah, individu sanggup meraih beberapa hal penting:

Pertama, penambahan ilmu sebagai dasar wawasan dan pengetahuan.
Kedua, meraih dasar-dasar berpikir yang logis, sistematis, dan metodologis, agar sanggup menopang mengarahkan yang terkait dalam meniti hidup.
Ketiga, secara sosiologis, individu dihadapkan pada pertalian sosial di mana sanggup belajar bakal persamaan dan perbedaan, konsensus dalam konflik, permisif dan filtering, dan sebagainya.
Keempat, bagaimana pun dalam format pergeseran masyarakat berasal dari yang berupa agraris ke industri, belum menghormati individu berdasarkan karyanya, kapabilitasnya, kredibilitasnya, dan sejenisnya. Masyarakat tetap perhitungkan aspek-aspek atribut simbolik layaknya latar belakang pendidikan formalnya.
Sukses tidaknya seseorang tergantung pada proses kreatif yang dilaluinya. Jadi, tetaplah bersekolah tetapi kudu kreatif.

Baca juga :