Peluang Terbuka Ekspor Indonesia ke Amerika Selatan

  1. Home
  2. /
  3. Pendidikan
  4. /
  5. Peluang Terbuka Ekspor Indonesia ke Amerika Selatan
Peluang Terbuka Ekspor Indonesia ke Amerika Selatan

Peluang Terbuka Ekspor Indonesia ke Amerika Selatan

Posted in : Pendidikan on by : admin

Peluang Terbuka Ekspor Indonesia ke Amerika Selatan

Peluang Terbuka Ekspor Indonesia ke Amerika Selatan

Peluang Terbuka Ekspor Indonesia ke Amerika Selatan

BANDUNG – Untuk kepentingan ekspor Indonesia, negara-negara di kawasan Amerika Selatan

merupakan kawasan potensial. Hal demikian, diungkapkan Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Karyanto Suprih, dalam release yang diterima jabarprov.go.id, pekan ini.

Menurut Karyanto, kendati potensi ekspor ke Amerika Selatan besar, realisasi ekspor produk Indonesia, masih terbilang kecil. Sehingga perlu dilakukan langkah-langkah untuk memperbaiki kondisi ini karena secara geografis.

Dalam catatan Kemenddag, Kawasan Amerika Selatan mewakili 12 entitas politik yang memiliki pandangan yang berbeda terhadap kebijakan pasar bebas. Pemerintahan di Venezuela, Ekuador, Bolivia, dan Argentina lebih cenderung pada kebijakan sosialis dan proteksionis. Di sisi lain, Kolombia, Chile, Peru, Brazil, Uruguay dan Suriname menyambut positif investasi asing dan sangat dipengaruhi oleh kekuatan sistem ekonomi pasar.

Kawasan Amerika Selatan memilki penduduk sekitar 387 juta dengan

pendapatan perkapita di atas USD 11.000 serta kelas menengah lebih dari 100 juta orang. Selain itu, pertumbuhan ekonomi di kawasan juga kurang terpengaruh dengan adanya krisis ekonomi yang melanda Eropa dan bahkan pada tahun 2011 pertumbuhan ekonomi Argentina, Ekuador dan Peru berada di atas 6.5%.

Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi tersebut juga akan meningkatkan golongan kelas menengah yang akan berpengaruh pada pola konsumsi masyarakatnya. Menurut studi, negara-negara Amerika Selatan dengan kelas menengah terbesar adalah Uruguay (56%)dan Argentina (53%), sedangkan Bolivia (13%) dan Paraguay (19%) merupakan negara yang memiliki kelas menengah terendah di Amerika Latin.

Untuk itu salah satu target Kementerian Perdagangan RI dalam meningkatkan nilai ekspor non migas akan mulai menjajaki negara-negara di kawasan Eropa Tengah, Afrika dan Amerika

Selatan untuk memperdagangkan barang-barang konsumsi utama.

Seperti diketahui ketiga wilayah tersebut kebanyakan terdiri dari negara-negara berkembang

yang menjadi tujuan pasar ekspor baru dinamakan sebagai pasar non-tradisional atau emerging markets. Harus dipahami bahwa pasar non-tradisional ini umumnya memang belum tergolong besar, tapi potensial untuk menjadi tujuan ekspor baru.

Namun, sambung Karyanto serangkaian kajian tetap diperlukan untuk menimbang cost and benefit yang akan diperoleh pemerintah Indonesia jika serius akan menjalin kerjasama dengan negara-negara yang tergabung dalam pasar non-tradisional kami harapkan forum ini dapat menyajikan peluang dan potensi wilayah Amerika Selatan sebagai pasar non-tradisional bagi produk-produk negara kita. Kelesuan ekonomi dan melemahnya daya beli masyarakat di benua Eropa dan wilayah Amerika Utara, memang mengharuskan kita untuk semakin menguatkan upaya diversifikasi pasar, untuk mencari pasar alternatif bagi produk-produk Indonesia.

Potensi dan peluang pasar di Amerika Selatan belum digarap secara maksimal karena kita masih berfokus pada pasar Brazil, padahal sebenarnya ada banyak negara potensial lain di kawasan tersebut seperti Peru, Argentina, serta negara-negara Salah satu kendala klasik bagi pelaku usaha untuk masuk ke pasar non-tradisional adalah minimnya informasi tentang situasi dan kondisi pasar di negara tujuan.

Kendala ini sebenarnya dapat diatasi dengan meminta bantuan dan informasi kepada Perwakilan Republik Indonesia, apakah itu Atase Perdagangan atau ITPC.

Dalam rangka mendukung para eksportir untuk memaksimalkan pasar amerika selatan, ujar Karyanto adalah pemanfaatan trade financing di Indonesia. Bukan saja skema pembiayaan ini menjadi sangat penting bagi industri-industri di Indonesia dalam meningkatkan daya saing produk-produk ekspornya. Namun yang lebih penting, skema pembiayaan itu dikaitkan dengan nilai kontrak atau underlying transactions sehingga tidak harus terikat dengan penjaminan atau kolateral dari para debiturnya. (NR)

 

Sumber :

http://softwarelivre.org/ojelhtc88/blog/jangka-sorong