Menyambut Hari Sumpah Pemuda : Hanya Anak Singkong

  1. Home
  2. /
  3. Pendidikan
  4. /
  5. Menyambut Hari Sumpah Pemuda : Hanya Anak Singkong
Menyambut Hari Sumpah Pemuda

Menyambut Hari Sumpah Pemuda : Hanya Anak Singkong

Posted in : Pendidikan on by : admin

Menyambut Hari Sumpah Pemuda : Hanya Anak Singkong

Lalu lalang kunang malam, bagaikan lampu perahu nelayan di sedang laut buta, sesekali menyambangi halaman rumahnya, yang senyap diterkam malam binal. Seorang laki laki paro baya merebahkan punggungnya di kursi bambu di bawah pohon jambu, yang kurus kering tumbuh di halaman rumahnya. Wajahnya dihadapkan terhadap jalur tanah kampung yang jadi kering dan membisu, sehabis seharian berjuang melawan terik matahari. Sengaja dia berkerumun bintang dan berselimut kain hitam malam karena bintanglah yang paling paham perihal hatinya yang bertepi kecemasan dan bintang pula yang paling dia anggap ramah lantaran tak satu kalipun bintang bintang itu dulu mengotori hatinya. Bintang bintang itu biarlah malam ini jadi miliku, demikian bisik hatinya.

Menyambut Hari Sumpah Pemuda

Apa hanya punya setangkai anyelir saja yang bisa berceloteh perihal bintang, baik bintang kejora atau bintang berparade gubug penceng yang berbaur sinarnya mencukupi segi segi langit. Atau hanya bingkai hati seorang laki laki yang sedang berselingkuh bersama bintang yang kini tidak bisa menautkan hati terhadap apa saja, baik disaat merontanya senja atau disaat angkuhnya sang bulan purnama yang menjual sinarnya. Tapi itulah sebuah guratan eksotis hati, sekiranya menghendaki terbang bersama sejuta sayap malaikat untuk mengarungi malam berasal dari segi satu ke segi lain.

Bukankah sesekali bintang menjenguk laki laki itu yang seperti Sang Pujangga, kemudian bertegur sapa sehingga telah usai telah syair-syair yang dapat digenapkan terhadap puisi perihal hidupnya, yang berfatamorgana hanya terhadap syair yang nakal dan nisbi. Mengapa pula dia hanya bisa menautkan benang merah terhadap kenisbian, padahal seluruh dunia dan isinya bisa digambarkan bersama “kata kata indah, seindah liarnya butir air di Niagara atau se bebas butir debu di Sahara”.

Namun untuk menguntai sebuah malam bersama rajutan bintang, diapun kudu membusungkan ruang dadanya kembali, sehingga berisi udara kejujuran ketimbang hanya diisi udara kemunafikan. Sang Pujangga itu yang hanya ditemani pohon jambu di belakang pagar bambu tempat tinggal mungilnya, kini menjadi mengerlingkan matanya terhadap bintang, terhadap realita kehidupan, terhadap debu debu jalanan depan rumahnya yang menjadi menyesakan nafasnya.

“Pergilah tidur, wahai manusia. Hari telah larut, saat sang kehidupan menungumu esok pagi “ seru sebuah noktah hati entah di segi sebelah mana. Sang Pujanggapun menjadi menampakan sorot matanya yang liar. Di jelajahi seluruh sudut hatinya, bisa saja masih ada rumpun bambu yang rindang sehingga hatinya tidak gerah lagi. Agar dia bia menyurutkan lebih di dalam lagi berasal dari sebuah realita. Kala dia kudu jatuh bangun menggegam sebuah realita itu sendiri, saat dia coba untuk menepiskan kemisteriusan benaknya.

“Hai, kau…bukankah saya lagi larut di dalam canda sang bintang, yang menggumuli saya sepanjang malam ini”.

Suara itupun surut ke belakang menghilang, menyelinap ke sedang kebon singkong yang ada di samping tempat tinggal tua itu. Kini dia lagi sunyi di dalam samudra buaian bintang bintang malam yang tersenyum genit. Anganya konsisten berseloroh sampai terdengarlah batuk batuk panjang istrinya berasal dari di dalam tempat tinggal tua itu. Seketika itu juga

cumbu rayu Laki-laki itu bersama sang bintangpun jadi surut dan istrinya bersama dibalut pakaian hangatpun kini telah berada di sisinya.

“Kalau kau semalaman disini bersama lamunanmu tak dapat merampungkan masalah kita,Pak ?”

“Justru bersama ditemani sang bintang malam inilah saya bisa mendapatkan inspirasi dan inspirasi inspirasi untuk mendapatkan jalur terlihat untuk hidup kita, yang tambah dipingit kesengsaraan ?’

“Ah kau berlagak seperti Pujangga saja”

“Apa itu Pujangga ?”

“Sama saja degan sastrawan atau penyair “

“Boro boro penyair !, membuat cerpen apa sajak saja ngak pernah. Aku hanya anak desa yang tahunya hanya menanam padi dan palawija. Aku hanyalah anak singkong. Sama sekali tak mengenal karang mengarang”

“Heee..katanya bisa mendapat inspirasi berasal dari sang bintang yang bertebaran di langit”

“Ya pasti saja, setiap manusia yang sedang bimbang bersama kehidupan. Biasanya kerap menyendiri di sedang malam untuk mendapatkan inspirasi bagaimana besok merampungkan masalah “

“Lantas jalur terlihat kamu bagaimana untuk kita seterusnya ? ”.

“Kita telah tak mempunyai apa apa lagi, hanya padi saja sisa panen kemarin. Sementara hujan belum brhenti, musim kemarau belum mampir juga, meski telah tiga hari ini terang. Aku belum berani menanam tembakau. Padahal hanya tembakau harapan kita satu-satunya”

“Tapi sabar saja, Pak. Biasanya sekiranya habis musim hujan yang panjang harga tembakau jadi tinggi. Tunggu lebih dari satu bulan lagi”

“Besok saya tak mampir ke sekolahnya anak-anak, untuk minta tempo. Bulan bulan ini saya belum bisa melunasi SPP mereka”

“Padahal sebentar lagi anak anak tes semester, Pak. Aku mau entah dua atua tiga bulan SPP mereka dibayar dulu”

“Habis gimana lagi ?, apa anak anak tidak bisa sekolah jika orang tuanya nggak mempunyai duit. Apa hanya orang kota yang kaya saja, yang bisa memintarkan anak anaknya. Aku mau di Negara kita lahir seoang pemimpin yang melepaskan SPP sekolah. Termasuk buku buku yang harganya selangit. Aku heran katanya kita telah merdeka, namun nyatanya untuk menyekolahkan anaknya saja telah kelimpungan”

“Sudahlah Pak !, kita hanya orang kecil, berteriak sekeras bisa saja juga tidak ada yang berkenan mendengarkan. Bahkan bintang bintangmu di langit hanya diam membisu. Kita bersyukur masih mempunyai lebih dari satu kambing, meski telah di pesan tetangga kita untuk korban. Kita jual saja untuk SPP anak anak kita dan sisanya untuk menyambung hidup”

“Tadinya saya berpikir seperti itu, Bu !. Tapi saya nggak enak sama Pak Diran yang telah memesan kambing kita. Baiklah Bu !, sehabis saya ke sekolah anak anak besok, saya langsung ke pasar kambing “

Kedua insan yang hidup sengsara kinipun menjadi bahagia, lantaran esok masih ada harapan untuk menyambung nafasnya kembali. Sang bintang kinipun menjadi meredup lantaran sang fajar menjadi menjemput untuk lagi ke kaki langit. Hanya nada dengkuran panjang sang pujangga yang menghiasi muka sang fajar. Tak lama sang surya kinipun menyodorkan kehidupan lagi untuk ditapaki manusia manusia yang masih mempunyai harapan.****

Supardi berkalang kegalaun hati saat menunggu kepala sekolah Tono dan Tini. Mukjizat apa yang bisa menopang dirinya untuk mendapatkan kemurahan berasal dari kepala sekolah ke dua anaknya itu. Pak Dirman sang kepala sekolah bersama berhias senyum di wajahnya kini duduk di depan Supardi yang tidak bisa berkata sepatah katapun.

“Oh, jadi ini Pak Supardi bapaknya Tono dan Tini ?”

“Betul, Pak, kehadiran kita ke sini hanya untuk menghendaki keringanan SPP Tono dan Tini. Rencana kita lebih dari satu hari nanti dapat menjual ke tiga kambing mereka untuk SPP, jadi saya minta tempo, Pak ?”. Mendengar keluhan Supardi, Pak Dirman melepaskan tawa panjang yang mencukupi seluruh sudut ruang guru.

“Bapak tidak usah menjual kambing mereka. Jadi kudu saya sampaikan kepada Bapak, tanpa memberitahu ke-2 putra Bapak sebelumnya. Bahwa ke-2 putra Bapak mempunyai prestasi yang bagus. Keduanya mempunyai nilai yang tertinggi di kelasnya. Bahkan sikap mereka berdua amat hormat kepada seluruh guru, sehingga seluruh gurupun sayang merela berdua “

“Terus ini bagaimana, Pak ? ”. Sunardi tidak percaya bersama info Pak Dirman itu.

“Mereka mendapat bea siswa berasal dari Negara, sehingga untuk tahun ini keduanya bebas SPP. Makanya kambing mereka jangan Bapak jual dahulu ?’. Suara Pak Dirman membahana ke setiap sudut ruangan, sehingga mengakibatkan perhatian seluruh guru.

“Oh, terimakasih sekali, Pak. Aku tidak percaya, mereka berdua hanya anak singkong, yang bisa bersekolah hanya berasal dari hasil panen yang tidak seberapa besarnya”

“Apakah anak singkong tidak boleh berpretasi ?. Semua negarawan di tanah air kita juga dulunya anak singkong, mengapa ke-2 putra Bapak tidak boleh berprestasi !”

“Ah, Bapak amat berlebihan”

“Bukan hanya itu saja, Pak. Nanti tepat upacara Hari Sumpah Pemuda mereka berdua dapat diberi tabungan prestasi berasal dari Yayasan Prestasi Anak berasal dari Jakarta dan lumayan bagi mereka untuk cost sekolah sepanjang satu tahun “

Hati Sunardi telah tidak bisa lagi mendengar kabar mengasyikkan berasal dari Pak Dirman. Ingin rasanya dia langsung sampai di rumah, sehingga muka istrinya berseri dan rona merah di pipinya jadi tergambar, sampai bisa membawa dampak hati sang pujangga anak singkong itu kelimpungan.

***

Rumah Tono dan Tini masih kelihatan lengang, saat matahari nyaris raih atap langit. Daun daun singkong di samping rumahnya telah menjadi kelihatan menunduk dipagut teriknya mentari. Erniyati masih kelihatan repot memunguti bunga papaya untuk lauk makan siang mereka. Melihat suaminya mampir bersama mengusung senyum yang lebar di wajahnya , Ernipun jadi penasaran. Bahkan kini diapun tidak percaya bersama kabar gembira yang disampaikan Sunardi. Hingga kelihatan muka Sunardi yang bersungut sungut untuk meyakinkan istrinya.

Erniyati kini hanya bisa duduk di serambi tempat tinggal mereka yang berlantai semen. Dia mendenguskan nafas panjang, tanda senang dan bersyukur telah mendapat pertolongan berasal dari Yang Kuasa.

“Pak, saya tadi mendengarkan laporan BMG di tv, menjadi bulan ini kita memasuki musim kemarau. Kita sebaiknya bersiap menanam tembakau. Biarlah cost sekolah anak anak diambilkan berasal dari duit prestasi mereka. Hasil panen tembakau biarlah untuk cost Tono masuk perguruan tinggi”

Sunardi hanya menganggukan kepala. Kini beranda tempat tinggal mereka jadi saksi bahwa kehidupan punya petani kecilpun dapat banyak bermakna sekiranya mereka sebenarnya menjadi hidup, apa-pun keadaannya. Hanya Tuhan Yang Kuasa saja yang paham kehidupan seluruh makhluknya di muka bumi ini.