Menggalang Keprihatinan demi Masa Depan Bangsa

  1. Home
  2. /
  3. Pendidikan
  4. /
  5. Menggalang Keprihatinan demi Masa Depan Bangsa
Menggalang Keprihatinan demi Masa Depan Bangsa

Menggalang Keprihatinan demi Masa Depan Bangsa

Posted in : Pendidikan on by : admin

Menggalang Keprihatinan demi Masa Depan Bangsa

Sejenak mari kami merenung kembali, bahwa bersama dalih apa-pun kami adalah tetap anggota penduduk timur yang kental bersama budaya ketimuran yang konservatif. Budaya tersebut mengemasi sikap mental santun, malu, kaya bakal nilai kesusilaan dan nilai serta norma lainnya yang menempel kuat terhadap sistim sosial Masyarakat Indonesia. Eksistensi karakteristik sosial ini sudah kokoh dan tak tergoyakan sampai berabad- abad lamanya. Namun seirama bersama dinamika globalisasi, di mana jarak suatu tempat dan benteng moralitas penduduk tidak menjadikan aspek pembatas beragam interaksi yang menggelinding begitu saja. Maka moralitas penduduk khususnya penduduk Indonesia sudah mengalami beragam dinamika yang lumayan signifikan.

Menggalang Keprihatinan demi Masa Depan Bangsa

Tentu saja wacana di atas lebih tepat sekiranya kami memandangnya berasal dari aspek moralitas penduduk Indonesia. Moralitas, berasal berasal dari bhs Latin : moralities, yang bermakna perilaku, sifat atau sikap yang benar . Dalam pembahasan ini, moralitas diekspresikan sebagai suatu nilai yang tertanam kuat didalam individu, yang sanggup membedakan mengenai “benar dan salah” didalam kehidupan bermasyarakat, Meskipun didalam ruang lingkup ini kami tidak menuntut suatu hal menurut benar dan keliru secara obyektif. Namun kami hanya hanya mengetengahkan pertimbangan rasional yang sanggup membimbing ke arah suatu hal yang benar atau salah, lepas berasal dari sangsi norma bagi yang melanggar suatu moralitas tersebut.

Betapa tidak memprihatinkan, bahwa belakangan ini moralitas penduduk kami didalam lebih dari satu aspek sudah terbukti mengalami pergeseran dan lebih-lebih condong bersikap “non kompromis” (menepis) terhadap nilai yang sudah ada. Kasus perseteruan antar/inter agama, tewasnya berpuluh puluh remaja kami yang menenggak miras oplosan yang tiada henti, yang justru jadi ajang gagah-gagahan yang tak perlu, lahirnya style hidup generasi “menguras duit negara” demi keperluan prestisius dan pembiasaan membahanakan anarkis di jalan untuk hal-hal yang sesungguhnya sanggup dirundingkan di belakang meja serta tindakan representasi imarolitas lainnya.

Oleh karena itu sebuah harapan baru mesti disodorkan ke sedang Masyarakat Indonesia, untuk tidak melepas sematan bangsa yang menjunjung tinggi “budaya malu” (shame culture), yang terhadap gilirannya bakal tetap melanggengkan “jati diri bangsa” yang sekarang sedang bercucuran air mata keprihatinan.

Dengan budaya malu inilah, sebuah penduduk sosial bakal terhindar berasal dari rasa saling “melukai satu sama lainnya”, sekiranya moralitas benar benar diemban secara kokoh oleh penduduk (Standford, 2010). Bahkan menurut Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, Bangsa Jepang sanggup capai prestasi yang baik , setelah terpuruk terhadap PD II, akibat “perasaan malu” yang tertanam terhadap tiap-tiap rakyatnya sejak dini. Demikian pengakuan mantan perdana mentri tersebut saat berikan orasi ilmiah kepada wisudawan Universitas Pancaila di Jakarta, Sabtu 10 Mei 2008 silam.

Budaya malu sekiranya tetap dikokohkan didalam sanubari kita, bakal terbesitlah kepekaan sosial, agar merefleksasikan setiap anak bangsa untuk menyadari hukum dan bagi penguasa enggan untuk menyelewengkan kekuasaan. Namun yang berlangsung sebenarnya, adalah jauh panggang berasal dari api. Hancurnya moralitas yang berujud lenyapnya budaya malu, jadi sarapan ke-2 bagi setiap anak bangsa ini. Bagi anak bangsa yang tetap punya moralitas dan “nasionalisme yang tak tergoyahkan”, yang sekarang jarang kami dapatkan, tentunya merasa geram sekiranya memandang para oknum petinggi yang laksanakan pendoliman duit Negara, namun mereka tetap saja tidak punya “perasaan bersalah” (guilt culture).

Sebuah keprihatinan bersama adalah suatu sikap nasional yang membentuk social character yang minimal sanggup kami jadikan acuan yang kokoh dan sanggup membantu bangunan social penduduk “madani di masa modern”, yang di masa depan mesti kami raih. Terutama keprihatinan didalam aksen pembentukan penduduk madani Indonesia (Indonesia social society). Sebagai bangsa yang sejak berasal dari awal terbentuknya sampai perkembanganya tetap berlandaskan terhadap konseptual beragam aspek, tentunya mesti punya pandangan ke depan yang ditekadi untuk segera terwujud, yakni penduduk madani bersama basic dan ideologi yang sudah kami sepakati bersama.

Berkaitan bersama wacana tersebut diatas. Dr. Nurcholis Madjid didalam Menuju Masyarakat Madani menyatakan, bahwa sudah jadi kewajiban kami semua untuk ikut serta ambil peran didalam usaha bersama untuk mewujudkan masyrakat berperadaban, penduduk madani, civil society, dinegara kami tercinta, Republik Indonesia. Karena terbentuknya penduduk madani adalah anggota mutlak berasal dari wujud cita-cita kenegaraan, yakni mewujudkan keadilan sosial bagi semua rakyat Indonesia.

Lebih lanjut Nurcholis Madjid didalam menyodorkan teorinya mengenai penduduk madani memberikan bahwa yang disebut penduduk madani, adalah penduduk yang berbudi luhur atau berakhlak mulia atau penduduk berperadaban atau “civil society”. Masyarakat Madani sanggup kami contohkan adalah penduduk yang dibangun Nabi Muhammad 14 abad yang lalu.

Oleh karena itu sebuah tekad bersamapun mesti diikrarkan, yang didahului bersama pencerahan bangsa didalam wujud keprihatinan bersama untuk menginternalkan moralitas yang mapan sedini bisa saja demi kehidupan Bangsa Indonesia di masa mendatang. Memang suatu perjuangan panjang untuk membentuk sebuah penduduk madani di bumi nusantara ini, lantaran terlalu banyak keterpurukan yang mesti dientaskan berasal dari keranjang sampah yang saling bertumpuk dan perihal satu sama lain. Namun bersama fitur penduduk majemuk yang lumayan luas variasinya dan berperan sebagai penyangga eksistensi bangsa di masa depan. Maka raihan prestasi menuju penduduk idaman tersebut adalah suatu hal yang tidak sanggup ditunda lagi. Hal ini sudah seperti diakui oleh rohaniawan Nasrani Paul F. Knitter, yang melukiskan perspektif penduduk pascamodern justru terletak terhadap dominasi kemajemukan. ruangguru.co.id

Mewujudkan keprihatinan bersama semestinya dimulai berasal dari hal yang paling essensi. Erich Fromm (Social plus Character Changes, 1942) menyatakan bahwa sebuah sifat individu banyak ditampilkan berasal dari struktur karakternya sendiri, namun sebuah struktur sosial ditampilkan bersama perilaku emosional yang umum di dapatkan terhadap penduduk sosial. Karakter sosial secara substansial dimulai berasal dari sifat tiap keluarga yang menyusunnya dan peran keluarga ini sebagai agen pergantian sosial, disamping sekolahan dan lingkungan kerja.

Dengan rumusan tersebut di atas kenapa kami tidak segera berbenah diri bersama memulai terwujudnya keprihatinan bersama untuk menyandang sebuah keadilan, kemakmuran dan kemerdekaan berasal dari beragam aspek untuk Masyarakat Indonesia.